Feeds:
Posts
Comments

Setahun silam, ia menjadi satu-satunya peraih Double Diamond di CNI. Kini ia tengah mengejari Crown Diamond. Kesederhanaan dan loyalitasnya pada CNI, patut dicontoh.

”Kalau saya tinggal di perumahan, saya tidak bisa bergaul dengan siapa saja. Kalau di sini, saya bisa menjadi guru dan bisa bergaul dengan siapapun.” Begitu ia menjelaskan, mengapa dirinya, seorang leader di perusahaan sebesar CNI, masih memilih untuk tinggal di perkampungan, di bibir gang sempit, kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Johanes Ismail nama lengkapnya, masih tampak sederhana kala ditemui TBM di kediamannya, Sabtu pagi itu. Dengan celana pendek dan kaos berkerah, ia tak tampak seperti pebisnis MLM yang sukses. Penampilannya pagi itu seolah menguatkan pengakuannya bahwa sebelum sukses di CNI, dia hanyalah seorang sopir bus sewaan, Hiba Utama.

”Tetapi sekarang saya sudah berhenti menjadi sopir dan fokus menjalankan bisnis CNI,” akunya.

Pertemuan dengan TBM ini, adalah yang kedua kalinya setelah di tahun 2009, majalah ini menuliskan perjalanan bisnisnya hingga mencapai peringkat Double Diamond pada tahun 2009. Sekadar mengingatkan, pria berpenghasilan Rp50 juta per bulan dari bisnis CNI ini, telah menjadi member CNI sejak 21 tahun lalu. Sebuah kurun waktu yang cukup lama bagi loyalitas para pebisnis MLM yang dikenal kerap gonta-ganti bisnis.

Semua itu berawal dari produk CNI, Sun Chlorella yang ia konsumsi. Dokter kala itu memvonisnya mengidap tiga penyakit sekaligus, maag, ginjal, dan tekanan darah tinggi. Rupanya dengan mengonsumsi produk itu, Ismail merasakan perubahan yang signifikan. Barulah, pria berkumis ini memutuskan untuk menjalankan bisnisnya, kendati dirinya terus bekerja sebagai sopir Hiba Utama. Sejak itu, setiap bertemu orang, ia selalu menceriterakan pengalamannya akan manfaat dari produk CNI. Tak lupa, ia mengajak mereka untuk menjadi member CNI.

”Awalnya saya hanya konsumen waktu itu. Sebagai pekerja saya menggunakan dan merasakannya. Dan bagaimana yang kita rasakan tadi dari produk tersebut kita sampaikan ke teman, itu saja,” terang Ismail.

Perjuangan nan panjang dan lama itu pun kini mulai dinikmatinya. Namun, bagaimana ia mengekspresikan sukacita kesuksesannya itu, agaknya berbeda dari kebanyakan leader MLM. Simbol-simbol kemewahan tampaknya jauh dari keseharian hidup pria berdarah Minang ini.

“Kesuksesan tidak berarti harus hidup bermewah-mewah, karena saya orangnya memang sederhana saja,” begitu tutur  Ismail. ”Kesabaran, percaya diri, adalah sebuah kunci dari suatu usaha jika kita melakukan dengan sabar maka akan timbul suatu kesuksesan besar,” lanjutnya.

Mobilnya pun jika dibandingkan dengan leader MLM lain yang ’menunggangi’ kendaraan senilai ratusan juta, Ismail merasa cukup dengan sebuah Opel Blazer berwarna silver saja. Itu pun dia gunakan sebagai kendaraan operasional untuk menjalankan bisnis ini. ”Dulu saya sopir bus Hiba Utama sekarang saya supir Opel Blezer.” Sederhana, namun ia ungkapkan dengan penuh kebanggan.
Motivasi Khas ala Ismail

“Berair sawah di atas, lembab juga di bawah,” ungkapnya menyitir peribahasa Minang, tatkala ia berbicara tentang bagaimana seorang leader harus bersikap dan bertindak dalam memelihara jaringannya. Ketika seorang  upline sukses maka downline juga harus sukses.

Ismail sendiri punya empat orang downline yang menjadi ujung tombak bisnisnya di lapangan. Kepada keempat downline yang menjadi mitra tersebut, ia senantiasa dekati dengan metode ‘bicara  dari hati ke hati.

”Sebab, pada dasarnya dalam bisnis ini kita memberdayakan sumber daya manusia. Kita harus membantu downline agar berkembang dan maju sehingga mereka dapat mencapai level yang lebih tinggi. Yang mana dengan banyaknya downline yang naik peringkat secara otomatis akan mendongkrak kenaikan level kita juga,” terang Ismail.

Leader selayaknya motivasi dan semangat kepada para downline, agar mereka dapat terpacu seperti apa yang diinginkan leadernya. Ini akan mereka gunakan sebagai standar, ketika mereka harus memperlakukan para downline mereka. Mereka berbicara dari hati ke hati dengan mitra mereka, memotivasi sehingga akan menimbulkan semangat bagi downline yang berada di jalurnya.

”Jadi, kita tidak perlu lagi turun ke bawah dan bersusah payah untuk melakukan pendekatan kepada downline dari empat mitra kita. Bagaimana kita bisa berkembang mencari empat mitra lain agar empat mitra itu dapat mengembangkan mitra yang berada di bawahnya.”

Teman Pembawa Kebahagiaan

Berkat kerja kerasnya selama puluhan tahun di CNI , Ismail telah memperoleh sejumlah reward  baik dalam bentuk barang maupun perjalanan wisata ke luar negeri. Ismail  menceritakan pengalaman paling berkesan saat pergi keluar negeri. ”Namanya, kita orang tidak pernah keluar negeri, tentu perasaan senang bukan main pasti ada. Apalagi ketika saya berada di Hongkong. Reward dari CNI berbentuk tour itu menjadi pengalaman sangat berkesan. Ka-rena, di Hongkong sana saya melihat banyak keindahan yang membuat takjub. Terutama pada saat saya berada di dalam terowongan di bawah laut. Begitu hebatnya teknologi yang berkembang di negeri itu.  Saya sangat bersyukur bisa memperoleh penghargaan itu dari CNI.”

Menurutnya rewad dari CNI hanya merupakan penghargaan atas jasanya. Itu dahulu. Tetapi kini, Ismail merasakan hal yang berbeda. Nilai dari berbagai reward itu, tidak se-penting dari pertemanan yang ia jalin di dalam bisnis ini. Baginya, ini adalah penghargaan yang paling menyenangkan dan membuatnya  bahagia. Ismail merasakan, melalui pertemanan ia memperoleh kebahagiaan karena dapat membantu banyak orang.

”Dengan banyak teman, dimanapun kita berada akan saling me-ngenal. Karena itu saya berada di bisnis MLM, karena ingin banyak teman. Itulah intinya,” ujarnya.

Kini, tinggal selangkah lagi Ismail mencapai tingkat tertinggi dijajaran leader CNI. Ia menargetkan untuk mencapai posisi Crown Diamond pada tahun yang akan datang. Yang tentunya dengan perjuangan dan pendekatan dari hati ke hati kepada mitra-mitra yang berada di jalurnya. Ismail masih dengan kesederhanaannya. Impian Crown Diamond ini pun terus ia perjuangkan de-ngan sungguh, sebagaimana impiannya untuk memiliki sebuah bisnis konvensional lainnya. ”Saya ingin bangun sebuah restoran masakan Padang agar dapat membantu orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan. Karena saya sadar, tidak semua orang bisa mencapai sukses di bisnis MLM, seperti yang saya capai ini.” (TBM)

Gedung tujuh lantai dengan halaman dan taman yang belum rampung ditata, siang itu tampak lengang. Nampak hanya para tukang yang sibuk di sekeliling gedung yang mencuat sendiri di kawasan itu. Tak berapa lama kemudian sebuah mobil SUV berwarna hijau tua melaju dan berhenti tepat di depan gedung. Turun dari mobil itu, seorang pria berkacamata menenteng sebuah tas kulit berwarna cokelat. Dia berjalan sendirian memasuki gedung yang baru diresmikan sepekan itu, menyapa satpam yang bertugas dan langsung mempersilahkan TBM memasuki ruang rapat di samping lobi. Berbicara dengan pria bernama Tanu Sutomo ini, terasa mengalir seperti air. Bicaranya blak-blakan, lepas dan banyak hal yang kami dapatkan dari obrolan sekitar 2 jam itu. Berikut nukilan obrolan Ferdinand Lamak, Asep Erwin dan Fotografer Kurnianto dengan pendiri sekaligus President Director PT Ifaria Gemilang, awal Oktober silam.

 

IFA itu punya depot sampai ke kampung saya lho pak. Bahkan di sebuah dusun di Lembata, NTT, ada rumah yang di depannya terdapat papan bertuliskan IFA.

Oh ya, betul di Lembata dan Larantuka, NTT kita ada depot di sana.

Sudah cukup lama lho. Ternyata, sudah 20 tahun perusahaan ini berdiri. Yang ingin saya ketahui, apa profesi atau pekerjaan Anda terakhir kali sebelum merintis berdirinya IFA ini pada 20 tahun yang lalu?

Saya sebelum buka IFA, bekerja di sejumlah perusahaan. Terakhir saya bekerja di Astra Export Company (AEC) menangani area Asia Pasifik dan Australia. Saya terakhir posisi di senior manager. Di samping itu saya juga pernah menangani shoes dan sporting goods. Itu saya pegang sampai seluruh dunia, saya sering travelling dan membuka kantor di negara-negara lain. Jadi saya mengeksport ke seluruh dunia, ikut pameran dimana-mana. Setelah semuanya itu saya jalani, saya melihat ada gap antara apa yang diekspor dan apa yang menjadi local consume. Yang diekspor kan barang-barang baik. Jadi yang ada di sini, mutu-nya seadanya. Tapi yang saya eksport bagus-bagus. Muncul pertanyaan, kenapa enggak saya jual lokal saja. Mulanya saya memang bermimpi menjadi pengusaha sih. Pengin kaya. Karena saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana sih.Ya, Anda bayangkan kalau di Astra kan kemana-mana saya berdasi, dianterin pake mobil, ya namanya kerja di perusahaan besar kan. Tapi begitu saya mulai usaha ini, wah tiap masuk ke gedung dengan menenteng beberapa pasang sepatu, pasti ditolak sama satpam. Itu saya jalankan sendiri. Jadi sayalah orang yang pertama kali berjualan sendiri. Kita coba di pasar lokal sembari saya juga terus melakukan ekspor juga, karena kita sudah bangun network kan?

Lantas kapan bergabungnya Pak Jarot?

Pak Jarot bergabung sekitar 3 bulanan lah setelah saya mulai menjalankan bisnis ini. Itu juga tidak didesain. Pak Jarot itu dulu asisten saya di Astra. Jadi kita benar-benar jalankan sendiri dan kami sangat berhemat ya. Tidak ada yang namanya biaya entertainment semacam itu. Pokoknya kita kerja, kerja, kerja, enggak ada liburan, enggak ada bonus, insentif, enggak ada semuanya itu.

Berapa modalnya waktu itu?

Enggak ada modalnya. Paling komputer yang saya beli pertama kali saya ke Amerika. Pergi berikutnya pulang saya beli Faksimilie. Pengalaman dan kepercayaan di masa lalu itulah modal saya yang paling utama. Barang-barang kita ambil dari pabrik-pabrik kan. Bahkan belum ada order, kita bisa ambil barang. Jadi bahasa awamnya, ya calo atau makelar. Satu hari saya bisa menjual sampai 30 pasang. Untung dari saya jualan itu, dibandingkan dengan gaji senior manager, lebih gede hasil jualan lho. Tapi ya, berjualan itu kan di mata orang terlihat rendah. Bahkan di mata almahrum mertua saya, dia pernah bilang, ‘Ini mantu gila. Udah kerja di perusahaan besar, posisi bagus, malah mau kerja kayak gini. Sinting!”Di usir satpam lah, ya pastilah. Kalau dulu di Astra, waktu datang pasti sudah dijemput. Kalau di luar negeri, ya pasti dijemput oleh orang bank. Disediakan mobil mewah. Tapi sekarang, siapa yang kenal saya? Enggak ada.

Berani sekali Anda mengambil langkah sebesar itu?

Ya, impian menjadi pengusaha itulah yang menjadi dasar kekuatan saya. Kalau saya bekerja di kantor, laku gak laku gaji dibayar. Tapi siapa yang mau bayar Anda dalam waktu yang panjang kalau Anda tidak bisa jualan.

Nah, hari ini perkembangan IFA sudah mencapai suatu titik dimana memiliki gedung sendiri semegah ini. Kenapa memilih Serpong yang agak ke pinggir, bukannya di Jakarta saja?

Buat saya ini kota, karena sebelumnya saya di kampung, hahahaha kasihan deh gue. Saya tinggal di Pamulang, kantor sebelumnya di Parung jadi kalau dibandingkan ke sini, ya menurut saya kota banget. Hahahaha.

Memang sejak awal Anda merencanakan bahwa IFA ini akan menjadi sebuah perusahaan Direct Selling lalu kemudian akhirnya menjadi perusahaan MLM?

Oh enggak, gimana mau merencanakan. Saya berjalan saja pokoknya jualan. Berpikir mau jadi besar saja enggak, apalagi sampai memiliki gedung sendiri kayak begini. Enggak lah, sama sekali enggak kepikir. Ya, semuanya berjalan begitu saja dan kita pikir harus lebih banyak orang lagi yang bisa terbantu hidupnya dengan IFA, makanya kita buatkan sistim jaringan. Jaringannya juga unik, enggak harus dua kaki atau lebih dan semuanya pasti dapatkan bonus, makanya kita namakan MLM Murni.  Jadi kalau Anda gabung, terus Anda rekrut satu orang, terus orang itu rekrut satu lagi dan bapak gak aktif lalu di kedalaman sekian ada yang dapatkan bonus, ya bapak juga akan mendapatkan itu. Ya, sebuah perjalanan yang unik tapi lucu ya kalau dipikir-pikir. Kita orang lokal, bekerja dengan cara yang sederhana tapi pesaing kita takut banget, kita dilihat seperti monster yang sangat menakutkan. Dan itu baru kita tahu belakangan.

Bagaimana dengan hak paten untuk semua produk IFA?

Nah, sekarang itu malah jadi beban biaya. Kita kan MLM fesyen, setiap kali berubah model sedikit, harus ngurus paten. Bayangkan berapa banyak yang harus kita urus. Ribet kan? Jadi saya itu punya hak paten banyak sekali, bukan untuk apa-apa, tapi menjaga supaya saya jangan dituntut orang. Tiap kali ganti model baru, patenkan. Lama-lama saya pikir, lucu juga ya saya bikin paten banyak-banyak supaya tidak dituntut orang.

Mengapa IFA yang sudah cukup lama berdiri, belum juga bergabung dengan asoasiasi khususnya APLI?

Ya, karena bapak tanya maka saya jawab saja bahwa kita memang sudah berkomunikasi cukup lama. Belakangan ini kita mulai lagi nih, kita dikunjungi, kita juga sudah menghadap beberapa kali. Namun, ada beberapa hal yang saya tidak setuju. IFA ini kan MLM fesyen. Nah, setiap 1.5 bulan selalu terbit katalog yang isinya produk baru terus. Bahkan tahun 2011 mendatang ini kita akan terbit catalog baru hampir setiap bulan. Nah, APLI berdiri dan banyak anggotanya yang berbasis perusahaan distributor food supplement. Kalau di mereka, setiap yang mau jadi anggota, bayar beberapa ratus ribu dapatkan starter kit dan produk. Di kita, cuma Rp5o ribu saja, dapat katalog, starter kit dan dapat 1 boks kartu nama lagi. Nah, di APLI, kita diminta agar setiap anggota yang masuk, dan belanja barang, namun ketika dia hendak mengembalikan barang tersebut maka kita harus menerima dengan dipotong 10%. Saya bilang, saya enggak bisa. Memang itu bagus untuk memproteksi para member. Tapi yang begini agak sulit kita penuhi karena kita kan MLM fesyen yang setiap saat bisa berganti model dan lainnya. Kita sudah mengundang mereka dan mereka datang tapi saya juga gak bisa memenuhi hal yang satu itu pak.

Apakah pernah melewati masa-masa sulit selama menjalankan IFA ini?

Kita biasa saja, karena memang kita juga berjalan tanpa ada apa-apa. Kalau tahun 1998 itu, kan semua orang bukan kita sendiri. Jadi ya, bagi kita biasa-biasa saja. Dalam setiap perkara, setiap hal tidak akan ada yang sempurna. Kita berjalan, bekerja dan nantinya hasil yang akan mengikutinya.

Berapa member IFA di seluruh Indonesia hingga hari ini?

Ya, sekitar 650.000 tetapi itu banyak yang tidak aktif. Menariknya, di IFA ini setiap bulan member tambah terus sekira 5.000 – 6.000 orang. Jadi ada yang pergi, banyak pula yang dating bergabung. Dan saya kira itu biasa dalam MLM.

Bagaimana rencana Anda ke depan dengan IFA ini?

Dalam waktu dekat kami harus meluncurkan produk baru. Tetapi saya harus mencari produk apa yang cocok ya. Mungkin Anda dan kawan-kawan ada yang punya ide, produk apa begitu? Sebab prinsipnya kita akan selalu berupaya menyediakan apa-apa yang dibutuhkan masyarakat. Jadi sangat terbuka untuk adanya produk-produk baru.Kalau produk pembalut? Untuk menjadi komplementer dari semua produk yang sudah ada saat ini?Nah, itu dia pak. Saya pikir itu betul dan pas dengan market yang sudah ada saat ini ya. Wah, terima kasih Pak Ferdi. Hahahaha. TBM

 

Apa kabar AVON? Perusahaan Direct Selling ternama itu, meski sudah lama tidak berpendar lagi dalam jagat bisnis penjualan langsung di Indonesia, namun tidak demikian di dalam kancah global. CEO & Chairman AVON, tahun ini masuk dalam 50 pebisnis wanita paling berpengaruh versi majalah bisnis terkemuka, FORTUNE.

Andrea Jung, wanita berdarah Asia yang lahir di Toronto, Ontario – Canada tahun 1959 itu, yang kini menjabat chief executive officer, masuk dalam urutan ke-lima, deretan 50 wanita pebisnis yang paling berpengaruh di dunia.

Berada di urutan pertama, Indra Krishnamurthy Nooyi Indra Nooyi (CEO PEPSI Co.) wanita berdarah campuran India-Amerika. Menyusul Irene Rosenfelt (CEO Kraft Foods), Patricia Woertz (Chairman, president and CEO Archer Daniels Midland) dan Angela Braly (Chairman, President and CEO WellPoint).

Bos AVON ini berada satu tingkat di atas entertainer ternama Oprah Winfrey yang kebagian di peringkat ke enam dan President & CEO Yahoo!, Carol  Bartz.Kabar ini tentu menggembirakan industri direct selling di dunia lantaran salah satu top eksekutif-nya masuk dalam jajaran atas  pebisnis wanita paling berpengaruh. Meskipun, kita semua ketahui bahwa AVON yang dalam beberapa tahun silam sempat berjaya di Indonesia itu, kini tidak lagi mengoperasikan bisnisnya di negeri ini.

Dalam wawancara dengan Patricia Sellers dari FORTUNE beberapa waktu lalu, Andrea mengisahkan bagaimana perjalanannya karirnya dan bagaimana ia mengendalikan kemudi bisnis AVON.“Kami (AVON) berada di tengah-tengah sebuah perubahan haluan. Kami telah menghilangkan 10 persen dari tenaga kerja kami, memotong hampir 30 persen dari manajemen, dan mengurangi 15 lapisan manajemen menjadi delapan saja. Ini membawa kita lebih dekat ke pasar. Hal ini juga membantu kita memotong biaya hampir $ 200 juta per tahun. Sekarang saya harus memutuskan, bagaimana kita menginvestasikan semua tabungan itu.Sejak tahun 2007, kami meningkatkan belanja iklan lebih dari 50 persen tahun ini dan berlipat ganda pada tahun 2008. Selain itu, kita investasi dalam inovasi: dalam keindahan. Jika produk Anda tidak berteknologi tinggi atau tidak dapat tampil elegan dan terlihat glossy – Anda tidak bisa bersaing di pasar saat ini. Saya tidak hanya berbicara tentang lipstik $20, tapi lipstik $5! Kami telah menghabiskan $100 juta pada pusat R & D.” Kita juga perlu berinvestasi di Internet. Di Amerika Serikat lebih dari 70 persen dari perwakilan kami sudah online. Namun di luar AS jumlahnya signifikan lebih rendah.Beberapa tahun lalu, saya di Turki, di mana saat itu hanya 10 persen dari penduduk memiliki akses Internet di rumah. Namun hampir 95 persen penjualan kami di Turki dilakukan secara online. Perwakilan kami pergi ke warung internet. Jadi saya percaya kita bisa bergerak jauh lebih cepat untuk mendapatkan semua perwakilan kami secara online. Tim TI kami telah mengembangkan platform Internet global, dan saya telah menempatkannya sebagai salah satu strategi utama kami. Kami juga meningkatkan investasi di geografi kunci, seperti Cina, di mana kita telah dengan cepat membangun kekuatan penjualan sejak kami menerima lisensi nasional. India adalah prioritas utama lainnya.”

Andrea Jung pada tahun 2010 pun dinobatkan sebagai satu dari 30 Most Powerfull Woman in USA oleh majalah Ladies Journal. Ia dipromosikan sebagai CEO AVON Products pada November 1999. Sebelumnya ia adalah direktur operasi yang membawahi semua unit bisnis Avon di seluruh dunia. Wanita ini bergabung dengan AVON pada tahun 1994. Pada tahun 2008, Jung diangkat Ketua Federasi Dunia Asosiasi Penjualan Langsung (WFDSA). Dia menjadi wanita pertama yang terpilih menjadi Ketua Asosiasi Kosmetik, perlengkapan mandi, dan fragrance pada Maret 2001, peran dia berlangsung hingga awal 2005. Jung yang lulus dengan predikat magna cum laude dari Princeton University ini terlahir dari seorang ibu yang asal Shanghai, China. Ibunya seorang insinyur kimia dan pianis. Sedangkan ayahnya adalah arsitek yang juga mengenyam pendidikan di Massachusetts Institute of Technology. Andrea Jung dibesarkan di Wellesley, Massachusetts, namun hingga saat ini ia sangat fasih berbahasa mandarin. Pada 2010 ini, selain menjadi masuk dalam peringkat pebisnis wanita paling berpengaruh versi Majalah FORTUNE ini, Jung juga menerima Clinton Global Citizen Award untuk sektor korporasi.

Jung juga masuk dalam urutan kedua Financial Times Inaugural “Top Women in World Business” list dan peringkat ke 25 dalam  “The World’s 100 Most Powerful Women,” versi Majalah Forbes.Avon, adalah perusahaan produk wanita, sebuah perusahaan kecantikan ternama, dengan pendapatan sekitar $10 miliar atau setara dengan Rp98 triliun. Avon ada di lebih dari 100 countries dan memiliki sekitar 6.2 juta member.  [Ferdinand Lamak]

Orang bilang, kalau mau sukses harus punya impian, Bob bilang, “Sukses tak harus punya impian.” Orang bilang Bob adalah pengusaha sukses, Bob bilang, “Saya nggak tahu, semua itu akibat dari proses. Sukses adalah akibat!”

Banyak yang sependapat jika melalui bangku pendidikan akan membawa dampak besar  bagi kesuksesan seseorang. Banyak entrepreneur atau pengusaha sukses adalah mereka yang datang dari latar belakang pendidikan yang tinggi. Sejatinya  melalui bangku pendidikan cita-cita dan kesuksesan akan diraih.

Maka tak heran, banyak orang berlomba menempuh pendidikan setinggi mungkin agar bisa menjadi pengusaha atau berwiraswasta.Teori tanpa praktik itu nonsense, tak ada artinya sekolah tinggi-tinggi, sergah Bob Sadino. Menempuh pendidikan sampai sarjana tetapi akhirya hanya jadi karyawan, itu sama dengan buang-buang waktu. Lihat kenyataan sekarang, banyak sarjana yang akhirnya menjadi pengangguran. Menunggu kalau ada lowongan kerja baru melamar.

Ya, kalimat-kalimat provoaksi dan lecutan-lecutan sudah biasa diaucapkan oleh Bob Sadino. Paling tidak, terutama untuk kaum terpelajar bergelar sarjana berani mengambil keputusan untuk bisa membuka lapangan kerja sendiri. Berani mengambil keputusan untuk bisa keluar dari garis perintah oleh atasan.

“Yang dibutuhkan hanya kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Ini adalah salah satu cara untuk mengurangi angka pengangguran, terutama di kalangan terpelajar sarjana yang sudah mencapai dua juta orang,” papar Bob kepada TBM ketika ditemui di rumahnya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan belum lama ini.

Melihat fenomena semakin tingginya angka pengangguran di Indonesia, Bob menduga ada yang salah dengan sistem pendidikan. Menurutnya, perguruan tinggi di Indonesia adalah pabrik sarjana nganggur, bukan sarjana yang siap bekerja. “Saya tidak tahu salahnya di mana, yang jelas ada yang sangat-sangat salah dengan sistem pendidikan kita,” kata Bob serius.

Selain itu, lanjut Bob, jika seseorang ingin menjadi pengusaha sukses, harus punya kemauan dan keberanian. Jangan pernah mendengarkan sindiran atau ejekan orang ketika seorang sarjana harus mulai usaha dari bawah.

“Jangan lihat besar atau kecilnya usaha itu. Yang dilihat adalah Anda punya kebebasan untuk melakukan sesuatu. Dan kebebasan inilah yang menjadi modal luar biasa besar bagi Anda. Sekarang Anda jualan pulsa, 15 tahun kemudian, Anda bisa menjadi jutawan dan bisa punya pabrik HP,” jelasnya sembari meneguk segelas teh hangat.

Seorang sarjana harus bisa melakukan apa saja yang penting bebas. Tidak boleh merasa sungkan atau malu jika melakoni pekerjaan kasar. Di Eropa, kata Bob, para sarjana sudah terbiasa melakoni pekerjaan-pekerjaan kasar, menjadi kuli bangunan, tukang cat, buruh pabrik dan pekerjaan kasar lainnya.

“Di Indonesia, ada nggak sarjana yang mau jadi tukang bakso? Padahal, kalau dia jualan bakso, dia adalah pemilik kan? Karena dia pemilik, dia tidak akan berhenti di suatu titik. Penghasilannya akan naik terus, dan dia bisa buka pabrik bakso. Dia bisa ekspor bakso dan jadi billionaire. Itu yang tidak dipikirkan, mereka hanya berpikir untuk bekerja dan mendapatkan fasilitas yang nyaman dengan ruangan AC,” timpal Bob.

Bob beralasan, banyak orang yang sekolah sampai bergelar sarjana, tetapi mereka tidak belajar. Om Bob memang ‘tidak sekolah’ tapi dia banyak belajar, baik di jalanan maupun di lapangan. Di sekolah mereka belajar tahu, sementara di luar, Om Bob belajar bisa. “Anda boleh tahu setinggi langit, tapi Anda bisa apa? Bisa nggak Anda jual bakso??” tanyanya tegas.

Bebas, merdeka, inilah yang membuka pikiran Bob untuk kemudian bisa membuka usaha sendiri. Tidak tahan menjadi karyawan yang harus mengikuti dan tunduk pada perintah atasannya, dia kemudian memulai usahanya sendiri. Dari nol hingga akhirnya menjadi pengusaha terkenal

, bahkan dianggap sebagai entrepreneur ikon di Indonesia. Keberhasilannya menjadi pioner di bidang agrobisnis dan agroindustri dengan bendera Kemchicks Group yang bertahan hingga lebih dari 40 tahun. Dari situlah tergerak hatinya untuk berbagi inspirasi, pengalaman dan gagasan tentang kewiraswastaan agar semakin banyak orang menekuninya.

Sukses adalah Akibat.

Kesuksesan adalah keberuntungan atau keberhasilan atas seseuatu yang dicita-citakan. Anda mungkin sepaham dan mengatakan Om Bob adalah entrepreneur atau pengusaha sukses. Dia telah sukses menggapai apa yang diimpikannya. Tidak bagi Bob, Bob bilang, “Saya tidak pernah m

erasa diri saya sukses. Saya tidak pernah bermimpi untuk bisa membeli tanah atau mobil Jaguar. Mungkin Anda punya impian untuk membeli Jaguar, saya nggak. Karena punya duit, saya bisa beli jaguar.”

Lantas apa makna sukses bagi lelaki berambut putih dengan ciri khas celana pendek dan kemeja lengan pendek ini? “Sukses adalah akibat,” kata Bob enteng. “Saya ada Jaguar, rumah dan tanah karena saya bisa beli. Kenapa saya bisa beli? Karena kemarin saya jual telor,” tambahnya. Sembari bergurau, Bob mengatakan, jika membaca majalah atau surat kabar yang berkisah tentang kesuksesan seseorang, semua hampir sama dan standar. Jika sukses harus kerja keras, ulet, punya cita-cita atau impian. “Semua itu bagi saya nggak ada sama sekali. Jadi saya adalah orang yang diluar semua cerita yang ada di majalah-majalah itu,” selorohnya.

Keluar Dari Zona NyamanLahir di Tanjung Karang, Lampung, 9 Maret 1933 dengan nama asli Bambang Mustari Sadino, kehidupan Bob sebenarnya sudah berada di zona nyaman. Penghasilan ayahnya Sadino, seorang pegawai pemerintah sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi keluarga. Namun Bob akhirnya merasa jenuh juga hidup dalam zona kenyamanan tersebut. Disaat orang lain hendak menggapai kehidupan yang nyaman, Bob malah memutuskan untuk keluar dari kenyamanannya dan memilih untuk hidup sederhana alias miskin.

“Sejak kecil sampai saya bekerja di luar negeri, saya berada di dalam kehidupan yang sangat nyaman. Ada satu titik di mana saya merasa bosan. Kemudian saya juga ingin merasakan kehidupan orang-orang yang serba kekurangan. Spontan saya sampaikan ke istri, besok saya nggak kerja lagi,” cerita Bob mengenang.

Itulah langkah awal, sejarah kesuksesan Bob kini. Tanpa berpikir panjang Bob lantas menjalankan pekerjaan barunya sebagai sopir taksi gelap di Jakarta dengan menggunakan mobil hasil kerjanya di Eropa. Pekerjaan ini dilakoninya hingga satu tahun. “Mobil tubruk, dan saya juga tidak ada ongkos, saya juga tidak berpikir panjang. Saya langsung menjadi kuli bagunan dengan upah Rp 100 per hari.”

Setelah sekitar satu tahun bekerja sebagai kuli bangunan, Bob akhirnya menemukan sebuah peluang usaha yang menurutnya sangat menjanjikan. Dia melihat adanya perbedaan antara telur dan yang ada di Indonesia dan di Eropa. Di sinilah titik awal perubahan kehidupan pada Bob Sadino.

Roda Bob Sadino (RBS)Mengisi kekosongan waktunya, Bob sering melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk memberikan seminar atau kuliah umum kepada kaum muda dan kalangan akademisi mengenai kewiraswastaan dan entrepreneurship.

Gaya bicaranya yang nyentrik, unik, provokatif, kontroversial, berani, membingungkan, meledak-ledak dan sangat merdeka selalu digunakannya dalam setiap pertemuan ini. Seperti yang dikutip dari buku, Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!, Bob memang suka sekali menggunakan bahasa ‘jalanan’ ketika berhadapan dengan kalangan akademisi. Menurut Bob, dengan kata-kata seperti ‘goblok’ yang selalu diungkapkan dalam setiap seminar maupun berbicara di depan umum, akan mengguncang-guncang pikiran mereka.

Mengapa? “Karena pola pikir mereka sudah terstruktur oleh teori-teori. Pikiran mereka jadi beku seperti beton, sehingga tidak fleksibel dan tidak memahami bahasa jalanan,” terangnya.

Bob mengaku, ia memang sengaja membuat mereka bingung. Karena dengan bingung itulah kemudian mereka berpikir Jika mereka berpikir, maka disitulah kemungkinan akan terjadi apa yang disebut sebagai pergeseran paradigma.

Namun di sisi lain, tak jarang Bob juga sering menggunakan bahasa akademik. Dia telah mencetuskan suatu konsep atau model yang kemudian disebutnya Roda Bob Sadino (RBS). RBS adalah suatu diagram berbentuk lingkaran yang menggambarkan perputaran kehidupan seseorang, yang di dalamnya berlangsung proses pembelajaran berupa dialektika atau sintesis antara teori dan praktik.

Empat kuadran RBS ini terdiri dari, kuadran pertama yang terletak di sebelah kiri bawah disebut dengan kuadran TAHU, berikutnya terletak di sebelah kanan bawah disebut kuadran BISA. Kuadran ketiga di sebelah kanan atas dan disebut kuadran TERAMPIL, sementara kuadran keempat di sebelah kiri atas disebut kuadran AHLI. (Pius Klobor & Kurnianto)

Tidak terasa,  November 2010 kemarin majalah ini genap berusia 1 Tahun. Usia yang masih hijau untuk ukuran manusia, namun bagi kami satu tahun adalah perjalanan penuh makna, membangun sesuatu dan kami mengawalinya dari titik nol.
Majalah ini lahir dengan konsep yang sedikit berbeda dari media-media yang sudah ada sebelumnya. Dan, kami mengucapkan terimakasih lantaran industri MLM rupanya memberikan ruang bagi kehadiran media seperti kami.
Pemikiran untuk ‘mendekatkan’ industri MLM dengan  pasar dalam artian luas, adalah ikhtiar yang kami lakukan dimasa awal kehadiran kami, hingga detik ini. Hal itu dapat Anda saksikan dalam sajian kami yang senantiasa menyusupkan unsur-unsur bisnis secara universal di dalam isi majalah ini.
Dalam kenyataan, di perjalanan setahun kemarin kami menjumpai banyak sekali hal yang membuat kami pada akhirnya menyimpulkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh industri MLM di tanah air, tidaklah kecil. Selain pasar yang tidak teredukasi dengan baik tentang bagaimana bisnis MLM itu sesungguhnya, masuknya avonturir bisnis lain yang menjalankan bisnis berpola MLM namun tidak memiliki legalitas resmi, adalah sebuah faktor pengganggu yang dominan di masyarakat.
Tidak adanya legalitas membuat perlndungan hukum terhadap distributor dan konsumen menjadi abstrak. Orang lupa akan hal ini saat dia masih asyik mendapatkan keuntungan dari bisnis ini. Namun, begitu masa bulan madu usia, yang muncul adalah berbagai keluhan, komplain dan gugatan. Dan ketika itu muncul, dalam pengalaman yang sudah terjadi selama ini, konsumen atau distributor lagi-lagi tetap menjadi pihak yang selalu jadi korban.
Dan, ketika ini terjadi, stigma berikutnya pun jatuh ke atas bisnis MLM. Persepsi yang sudah lama terbentuk, semakin diperkokoh dengan fakta dan fakta baru, bahwa ada bisnis jaringan yang ‘membohongi’ konsumen dan distributor-nya. Maka semakin sulitlah mengubah paradigma umum bahwa sesungguhnya bisnis MLM tidak seburuk, tidak se-membohongi yang mereka pikirkan.
Otokritik juga untuk para pelaku bisnis MLM khususnya para leader atau distributor. Rasanya, belum banyak terdengar suara kritis para distributor terhadap fenomena. Padahal, distributor MLM ini adalah pihak yang juga terkena dampak langsung dari turunnya kepercayaan publik karena beroperasinya bisnis-bisnis liar ini.
Refleksi dan fakta yang kami jumpai di lapangan menunjukan bahwa, tidak sedikit juga leader MLM yang resmi dan legal ikut andil di dalam beroperasinya bisnis-bisnis liar berdurasi pendek ini. Mereka namakan, bisnis ini sebagai bisnis ‘gambling’ untuk mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat.
Praktik begini tentu saja tidak dapat dibiarkan terus ada dan bertahan lama. Manajemen dari bisnis yang mereka jalankan pun tampaknya harus terus menerus meningkatkan awareness para distributornya, untuk selalu berhati-hati terhadap bisnis-bisnis yang tidak legal seperti ini.
Bayangkan, jika manajemen, distributor dan media bergandengan tangan untuk memerangi apa yang namanya money game atau tipuan bermodus bisnis MLM, niscaya iklim  dan citra MLM dimata publik menjadi semakin baik dari hari ke hari. Semoga.

Bertempat di Putrajaya International Convention Centre, Malaysia, K- LINK Internasional menggelar perhelatan akbar memperingati ulang tahunnya yang ke-sepuluh. Sekitar 8000 member dari 46 negara menghadiri acara yang bertajuk “K-LINK International 10th Anniversary Celebration and Recognition Rally-Heading Towards the 10th GOLDEN YEARS” selama dua hari, 2-3 Oktober 2010 ini.
Dalam acara tersebut, Dato ‘Dr Darren Goh, Group Managing Director K- LINK International menegaskan pentingnya kerja sama guna membangun masa depan yang lebih baik.
“Tidak ada perbedaan di antara kita karena kita semua adalah satu keluarga besar, K- LINK. Kita harus bekerja sama untuk membangun hari esok yang lebih baik,” demikian ditegaskan Dato’ Darren Goh.
Satu dasawarsa perjalanan K-LINK International telah banyak menorehkan hasil yang membanggakan. Tak heran, jumlah member dan jaringan pun terus bertambah disetiap waktu. Dan, tak hanya di Malaysia, negeri asal perusahaan ini, K- LINK kini telah merambah ke berbagai penjuru dunia.
Group General Director K-Link International, Dato’ Dr. Hj. Md. Radzi bin Saleh mengapresiasi dan menyambut baik pencapain K- LINK satu dekade ini. “Terima kasih untuk semua elit K-LINK Internasional dari seluruh dunia juga untuk anggota yang telah bersama kami selama sepuluh tahun ini yang membantu untuk membentuk K-LINK seperti sekarang ini.”
Pesatnya perkembangan K-LINK International ini tentu tak terlepas dari berbagai gebrakan para member dan manajemen PT K-LINK Indonesia. Hal tersebut diakui Ibnu Dipapraja, Advertising & Promotion Manager PT K-LINK Indonesia. Ibnu bilang, hal ini dapat terlihat jelas dengan mendominasinya peserta juga para leader yang menerima penghargaan disaat ulang tahun ini.
“Dari 8000 peserta yang hadir, sekitar 1200-nya adalah member dari Indonesia, belum terhitung TKI yang berada di sana. Tak hanya itu, 87 Crown Ambassador (CA) yang diberikan penghargaan, 65 di antaranya adalah berasal dari Indonesia. Begitu pun 14 Senior Crown Ambassador (SCA), 8 diantaranya adalah dari tanah air. Dan, Royal Crown Ambassador (RCA) Cuma satu dari Indonesia, H Rivai Djatmika,” jelas Ibnu kepada TBM. [TBM-PK]

Tekad PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) untuk tetap menjadi market leader yang kreatif dan inovatif di bidang network marketing di Indonesia kian kokoh. Adaptasi terhadap tuntutan pasar adalah salah satu syarat untuk tetap bertahan dan disukai masyarakat.

Chief Executive Officer CNI Indonesia S. Abrian Natan menyampaikan hal itu dihadapan ratusan orang anggota CNI dari seluruh Indonesia dalam acara National Convention 2010 di The Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Sabtu (2/10).
Pada acara rutin yang digelar saban tahun ini, perusahaan ini pun semakin menegaskan komitmennya agar semakin dekat dengan konsumen. Dengan konsep dan wajah barunya, CNI memberikan peluang usaha kepada masyarakat untuk menjalankan bisnis tanpa harus me-ninggalkan pekerjaan utamanya.
“CNI sekarang berbeda dengan yang sebelumnya. Dibangunnya CNI Creative Center (C3) di Puri Kembangan tahun lalu, menjadi sebuah momentum perubahan bagi CNI. Kini siapa saja boleh datang ke kantor kami dimanapun tanpa harus khawatir di-prospek atau dikejar-kejar untuk bergabung menjadi anggota. Secara bisnis, kita putuskan untuk menjalankan strategi lebih terbuka untuk umum, bersahabat dan dengan pendekatan yang lebih elegan,” tegas Abrian.
Tidak sekadar berorientasi bisnis, CNI juga menggencarkan berbagai program peningkatan kualitas hidup keluarga melalui pembentukan komunitas-komunitas.
“Enrich Your Life” menjadi filosofi dari semua kegiatan bisnis CNI. “Bahwa kami menginginkan agar seluruh aktifitas, produk dan layanan kami dapat memuaskan dan membantu meningkatkan kecerdasan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” cetus Abrian lagi.
Pada perayaan NC 2010 ini, CNI juga secara resmi meluncurkan logo 25 Tahun CNI yang menggambarkan visi dan komitmen CNI dalam memperkaya kehidupan masyarakat. Ini terkait dengan usia perusahaan  yang telah memasuki seperempat abad. Sebuah perjalanan panjang yang telah dicatatkan perusahaan ini di dalam kancah industri penjualan langsung di tanah air.
Sementara itu, PR Manager PT CNI Pramesti Indah Permatasari menambahkan, perusahaan kini memproduksi 20 jenis suplemen kesehatan, peralatan rumah dan suplemen kencantikan yang total omset mencapai miliaran rupiah dengan pertumbuhan rata-rata 15 persen per tahun.
Pramesti mengatakan, perusahaannya juga aktif melakukan promosi kesehatan seperti mengadakan seminar masalah kesehatan untuk masyarakat umum dan ikut membantu pendidikan karakater bagi remaja usia 7-17 tahun melalui program CPR (Citra Pemimpin Remaja) yang bekerjasama dengan sejumlah SMA yang merupakan kegiatan luar sekolah.

Ajang penyerahan penghargaan dan reward
Sebagaimana kegiatan sejenis yang sudah berlangsung setiap tahun selama ini, NC 2010 ini pun menampilkan para distributor sukses yang telah melabuhkan bisnis-nya di CNI.
Penghargaan diberikan kepada para distributor CNI terbaik tingkat nasional untuk kategori kenaikan level keanggotaan, Best Distribution Center (DC) dan peraih bonus Champion Trip 2010 dengan tujuan Thailand dan Malaysia.
Pembicara, inspirator dan spitualist ternama, Gde Prama menjadi tamu kehormatan dalam acara itu. Ia berbicara dalam sesi motivasi untuk memacu semangat para member yang hadir. Disamping itu ada pula sesi hiburan yang menampilkan Infotainer Deny Darko, The Master Season II.
Ferdinand Lamak & Kurnianto